Formalitas (?)

Semua orang berhak beropini. Sah-sah saja. Toh hukum perundangan formal apa pun di negara ini ga ada yang melarang. Begitu pun ketika saya menyampaikan opini seperti yang saya tuangkan pada tulisan ini atau siapa pun pada tulisan2 mereka.
Continue reading

Advertisements

Kebanggaan Kedaerahan Adalah Kemunduran Suatu Bangsa?

Jika kebanggaan kedaerahan adalah kemunduran suatu bangsa bagi seorang Hatta, lantas bagaimana dengan pengangkatan nilai2 luhur yang berasal dari adat istiadat dan maupun ajaran kedaerahan?

Sejauh yang saya ketahui, identitas Indonesia sebagai suatu bangsa merupakan sebentuk identitas dari beragam kedaerahan yang saling berkomplemen satu sama lainnya, mulai dari Sabang hingga Merauke.

Jika kebhinnekaan identitas dan istiadat kedaerahan dibinasakan dengan dalih meng-eka-kan sebuah identas baru bernama Indonesia, tidakkah nilai2 luhur yang terkandung pada istiadat kedaerahan akan berujung pada keberpunahan?

Tidakkah sebuah bangsa yang kokoh berpondasi sejarah kebudayaan yang kokoh pula? Sebab dari mana keluhuran nilai2 sosial yang dipegang suatu bangsa jika bukan berasal dari nilai2 luhur adat kebudayaan kedaerahan? Tidakkah itu semua terbentuk dari dilestarikannya adat kebudayaan daerah?

Menganggap pemikiran seorang Moh. Hatta demikian tanpa pijakan bacaan2 atas seluruh tulisan yang beliau tulis serta studi mendalam mengenainya tentu saja merupakan kesimpulan yang terburu2. Namun saya berpendapat bahwa direnungkannya sebuah pernyataan yang saya tuliskan di awal tadi sebagai perbekalan dialektik malam ini bukanlah suatu kegiatan yang tak bermanfaat sama sekali. Setidaknya bermanfaat untuk sedikit bersenam pikir. Tidakkah demikian?

Wallahu a’lam bisshawab

Catatan Singkat Mengenai Rasa Malu Dalam Islam

Seingat saya ada hadits Nabi saw yang mengatakan, “rasa malu (alhaya-u) merupakan sebagian dari keimanan”. Rasa malu merupakan bentuk daripada kontrol akal kepada hawa nafsu. Nafsu yang bersifat fitrah pada setiap hewan, termasuk manusia. Nafsu hayawani, nafsu hewani.

Akal mengekang manusia untuk bertindak sesuai alur alamiah hewannya, dengan bentuk pemikiran rasional. Rasionalitaslah yang membedakan antara manusia dengan hewan.

Saya tidak bermaksud menyinggung sebagian orang yang mengesampingkan atau bahkan mentabukan rasionalitas berpikir, penalaran kritis dengan menyamakannya kepada hewan. Namun saya bermaksud mencatat sedikit dari pemahaman yang saya dapatkan baru2 ini. Mengenai hadits Nabi saw terhadap peran rasa malu dalam beragama.

Yakni tiada beragama bagi yang tidak berakal. Agama hanya untuk makhluk yang berakal. Sebagai pengekang kehendak naluri hewani yang terdapat pada manusia. Al misbahu fiz zujajah. Yang menyelubungi naluri hewani dengan keluhuran budi pekerti yang hanya dapat dipahami oleh bahasa makhluk2 yang berakal.

Wallahu a’lam..

Selayang Pandang Mengenai Belajar Tulis-Menulis

Tak sedikit orang yang mencoba membiasakan menulis, menuangkan letupan2 ide di kepalanya yang biasanya dapat kubaca sekilas merupakan ide2 segar untuk konsumsi publik. Tapi entah karena faktor apa, mereka menulis dengan format penulisan tata bahasa yang membuatku bingung membacanya. Entah ambigu dimana2, antar kalimat yang saling tidak relevan, penggunaan kata ganti pertama yang sering berganti2 dalam satu tulisan yang sama, sampai penggunaan tanda baca asal yang kesemuanya membuat aku pribadi, sakit mata sampai sedikit geli membacanya. Apalagi kalau ada di antara mereka yang menulis seperti itu dengan diksi yang mendayu2. Waduh, tak kuat rasanya mataku berlama2 membacanya. Continue reading

Melebur Hening

Setiap orang memiliki jalan kebenaran yang diyakini dan diperjuangkannya. Tidak ada yang salah dalam memperjuangkan apa yang diyakini dg jalan kebenaran masing2, serelatif apa pun itu.

Namun terkadang manusia perlu berhenti sejenak, melebur dengan keheningan. Menghisab diri, mengingat semua yang telah terjadi dan ia perbuat. Mempertimbangkan kembali, apakah jalan kebenaran yang ia perjuangkan bukanlah jalan yang keliru.

Jikapun pada akhirnya tetap yakin dg jalan kebenarannya, perjuangannya, pun manusia perlu mempertimbangkan pula, apakah seluruh tindakan yang ia lakukan dlm memperjuangkan jalan kebenarannya sudah tepat sesuai kondisi atau malah jadi kacau, naif, dan tidak bijak. Sesekali merenung sangatlah diperlukan.

Wallahu a’lam..

Ngelantur Soal Perkembangan Teknologi dan Ajaran Budhi

“Kita hidup di zaman di mana budhi semakin tercerabut menghilang dari kehidupan kita,” tutur guru saya suatu waktu. Sedikit banyak saya cukup setuju dengan pernyataan beliau. Jika merujuk kepada teori generasi, mayoritas penduduk yang biasa kita temui merupakan rentangan generasi dari generasi X sampai Z. Berdasar pada karakter umum tiap generasi, terkhusus pada generasi Z atau yang biasa dikenal sebagai generasi internet, perkembangan teknologi cukup banyak menjadi andil di balik tergerusnya nilai-nilai budi pekerti di tengah kehidupan masyarakat. Continue reading