Sajak Berbalas

Tahi kotok kau berlaga dewa Mahameru
Padahal “sabda”mu menunjukkan kau itu dungu
Bengeut sia lalagaan bijaksana
Lah ujung-ujungnya jualan agama juga

Ketawanggede, 2017

Advertisements

Kidung Malam

Hari-hari berganti
Banyak yang telah terlewati

Kilasan-kilasan nan penuh warna
Terus terpatri di dalam dada

Daun-daun berguguran
Dibawa angin ke haribaan

Tak semua hal dapat disampaikan
Dengan bahasa dan kata-kata

Maka biarlah sang angin yang mengabarkan
Yang tak sempat untuk diucapkan

Maka biarlah sang waktu yang menyampaikan
Yang tak mampu untuk diutarakan

Dukuh Menanggal, oktober 2017

Rintik Gerimis di Malam Hari

Gerimis merintik pelan
Basahi bumi perlahan-lahan
Butiran air beterbangan ringan penuhi malam
Malam yang dingin dengan lampu-lampu temaram

Bunga-bunga kapas berguguran
Bersama dedaunan menggandeng malam
Berguguran di pinggir taman
Di antara orang-orang yang masyuk dengan keheningan

Hidup bagaikan putih kapas di padang
Saling berpeluk erat satu sama lainnya
Mencoba bertahan dari deru angin dan jejak lainnya
Sebelum akhirnya pergi berpisah meninggalkan kawanannya

2017

Harian Mutia

Aku lahir ke dunia
Sebagai anak tertua
Kuberi orang tuaku cinta
Namun yang kudapatkan Tak seperti yang kuharapkan

Adik-adikku pintar
Adik-adikku disayang
Karya demi karyaku tak dianggap
Seakan aku anak yang terbuang

Aku menjaga pergaulanku
Dan aku dianggap asyik sendiri
Aku mencoba melatih kecerdasanku
Dan aku dianggap ricuh-mengganggu

Aku mencoba meniti jalanku sendiri
Meski jatuh bangun aku tak berhenti
Meski tiada dukungan aku tak menepi

Saat adik-adikku sukses berkarir
Aku berbangga dan memberi selamat
Di saat yang sama orang-orang mencibir
Menyayangkan aku yang tidak “sukses” bagai mereka

Tak kuhiraukan, kucoba tetap bergeming
Sebab kuyakin dengan jalanku sendiri
Meski aku berjuang seorang diri

2017

Pada Malam Kudus

memasuki hening aku terduduk
ia mulai bercerita.
“Malam ini malam jumat. Sebagian
orang mengatakan seluruh kehidupan

dimulai pada hari ini,” bisiknya.
Kemudian ia mulai mempertanyakan
tentang kesadaran dan
kebernyawaan manusia; jika

kesadaran nyawa bersifat konstan
pada malam kudus ini
lahirlah angin yang berdesir
menggerakkan gemerisik dedaunan

tergugus–menari-nari anggun di kisi-kisi
kehidupan yang tertidur. Sunyi menumpah
senyap; ia kembali melanjutkan
pertanyaan demi pertanyaannya

siapakah gerangan yang memiliki
kuasa atas kesadaran manusia, yang
meniup-hidupkan serta merenggut-matikan
mereka–pada roh ia berpamit

ketawanggede, juli 2017

Soedirman: Tentang Mimpi Pemuda AlKahfi

suatu ketika teringatlah aku akan adikku
membukakan tabir waktu dalam kepalaku
saat asyik kami bermain sewaktu kecil dulu
berceritakan mimpinya saat itu

“mimpi alkahfi itu tak akan ingkar janji
sebab adikmu telah mewangi
entah siapa yang akan menjumpai
londo akan segera pergi,”
begitu tafsirnya ungkap pak Kyai

lantas kupikirkan itu semalaman
kutanyakan pada ayahku mencari jawaban
kudiskusikan dengan para sepuh pergerakan

“londo harus segera pergi”

yakinku dalam getaran hati
sebagai isyarat suratan takdir

semarang, juni 2017

Menutup Mata

menikmati ketidaktahuannya
lantang dalam gulitanya
tersesat di bawah langit benderang

begitulah idealisme dalam
alam khayal
tanpa rupa dalam
alam nyata

dia yang berbahagia
jangan salahkan dijadikan boneka
sedang dia menyerahkan dirinya
secara suka rela