Pada Malam Kudus

memasuki hening aku terduduk
ia mulai bercerita.
“Malam ini malam jumat. Sebagian
orang mengatakan seluruh kehidupan

dimulai pada hari ini,” bisiknya.
Kemudian ia mulai mempertanyakan
tentang kesadaran dan
kebernyawaan manusia; jika

kesadaran nyawa bersifat konstan
pada malam kudus ini
lahirlah angin yang berdesir
menggerakkan gemerisik dedaunan

tergugus–menari-nari anggun di kisi-kisi
kehidupan yang tertidur. Sunyi menumpah
senyap; ia kembali melanjutkan
pertanyaan demi pertanyaannya

siapakah gerangan yang memiliki
kuasa atas kesadaran manusia, yang
meniup-hidupkan serta merenggut-matikan
mereka–pada roh ia berpamit

ketawanggede, juli 2017

Soedirman: Tentang Mimpi Pemuda AlKahfi

suatu ketika teringatlah aku akan adikku
membukakan tabir waktu dalam kepalaku
saat asyik kami bermain sewaktu kecil dulu
berceritakan mimpinya saat itu

“mimpi alkahfi itu tak akan ingkar janji
sebab adikmu telah mewangi
entah siapa yang akan menjumpai
londo akan segera pergi,”
begitu tafsirnya ungkap pak Kyai

lantas kupikirkan itu semalaman
kutanyakan pada ayahku mencari jawaban
kudiskusikan dengan para sepuh pergerakan

“londo harus segera pergi”

yakinku dalam getaran hati
sebagai isyarat suratan takdir

semarang, juni 2017

Menutup Mata

menikmati ketidaktahuannya
lantang dalam gulitanya
tersesat di bawah langit benderang

begitulah idealisme dalam
alam khayal
tanpa rupa dalam
alam nyata

dia yang berbahagia
jangan salahkan dijadikan boneka
sedang dia menyerahkan dirinya
secara suka rela

Sejulur Kain Putih

Sejulur kain putih terulur ke bumi
Adalah perpanjangan tangan dari pena sang takdir
Terjulur jatuh lewati batas antar dunia
Isyarat pangeran yang kini telah tiada

Sejulur kain putih terulur ke bumi
Menjadi petunjuk dalam sunyi
Namun kebanyakan tak mampu menangkap tatap
Sebab sukma sudah banyak menggelap

Sejulur kain putih terulur ke bumi
Adalah kawan bagi para pecandu sepi
Sebab para pengikut tak lagi setia
Mabuk melupa karena kuasa

Sejulur kain putih terulur ke bumi
Bagai alir sungai di dalam hutan
Harapan tersisa bagi pewaris kehidupan
Dari malapetaka yang akan segera datang

Sejulur kain putih
Terjulur jatuh ke bumi
Yang semakin menghitam gelap
Sebagai harapan di kala bencana

21.13

Haus

doktrin kebencian itu semakin haus
mencuci otak seonggok manusia
untuk membenci saudaranya sendiri

doktrin kebencian itu semakin haus
dengan kulit domba berlumur merah pun
serigala tetaplah serigala

doktrin kebencian itu semakin haus
senyumnya tak lagi mampu bertahan untuk menipu
haus akan pertentangan dan pertumpahan darah

Mei 2017

Wasiat Buruh Pelitur

mereka bilang aku mampus
karena tak menemukan utuh
jasad badanku
karena darah
serta geletak bangkai manusia
tak pengaruhi pesta pora
dalam istana ibukota

mereka tak pernah tahu
aku masih hidup
terus mengintai para perampok itu
mereka bisa ngomong
pejuang vietkong
sebagai pemberontak
mereka bisa ngomong
pejuang kuba
sebagai teroris
pun aku
sebagai sampah pinggiran
tapi mereka tak pernah tahu
aku masih hidup
terus mengintai para perampok itu

untukmu penguasa tanah
jangan kira aku mati
karena aku takkan sudi
jeritanku terus menggema
datang dari ranting pohon
yang diratakan aspal jalanan
dari sumur-sumur tua
yang dimasukkan bangkai manusia
dari riak air sungai
yang memerah darah manusia
dari desir udara
yang melahirkan seribu aku
menuntut keadilan
yang dulu kau renggut

untukmu kasihku
kau tahu
aku selalu merindu
dan aku masih hidup
walau hanya bisa menatap jauh
aku akan segera pulang
walau akan segera pergi kembali
menuntut hak-hak yang dicerabut
dari kamar sempit kontrakan kita

untukmu buah hatiku
kalau ada yang menanyakan
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja:
karena bapakku orang berani
terus melawan meski sendiri
bapakku belum mati
dan akan segera kembali

jawa timur, april 2017

Mari Kita Gelar Karpet Merah

sambutlah dengan meriah
dengan wajah ceria
dengan hati gembira
berbagai gaya hidup kekinian
biar tidak kaku perkembangan zaman
amerika, inggris, perancis
spanyol, jerman, portugis
jepang, korea, china
arab, india, thailand
sambutlah dengan meriah
kita kasih gelar karpet merah

tinggalkan, musnahkan, bumihanguskan
berbagai tradisi kolot juga ndeso
tak perlu mereka melestari
karena istiadat telah usang
sementara perkembangan iptek semakin melesat
adat dan budaya tradisional dikubur rapi saja
di bawah karpet merah yang kita gelarkan

marilah mari kita berbahagia
kita sambut dengan perayaan meriah
atas datangnya tradisi kekinian
atas mampusnya kebudayaan daerah