Menutup Mata

menikmati ketidaktahuannya
lantang dalam gulitanya
tersesat di bawah langit benderang

begitulah idealisme dalam
alam khayal
tanpa rupa dalam
alam nyata

dia yang berbahagia
jangan salahkan dijadikan boneka
sedang dia menyerahkan dirinya
secara suka rela

Sejulur Kain Putih

Sejulur kain putih terulur ke bumi
Adalah perpanjangan tangan dari pena sang takdir
Terjulur jatuh lewati batas antar dunia
Isyarat pangeran yang kini telah tiada

Sejulur kain putih terulur ke bumi
Menjadi petunjuk dalam sunyi
Namun kebanyakan tak mampu menangkap tatap
Sebab sukma sudah banyak menggelap

Sejulur kain putih terulur ke bumi
Adalah kawan bagi para pecandu sepi
Sebab para pengikut tak lagi setia
Mabuk melupa karena kuasa

Sejulur kain putih terulur ke bumi
Bagai alir sungai di dalam hutan
Harapan tersisa bagi pewaris kehidupan
Dari malapetaka yang akan segera datang

Sejulur kain putih
Terjulur jatuh ke bumi
Yang semakin menghitam gelap
Sebagai harapan di kala bencana

21.13

Haus

doktrin kebencian itu semakin haus
mencuci otak seonggok manusia
untuk membenci saudaranya sendiri

doktrin kebencian itu semakin haus
dengan kulit domba berlumur merah pun
serigala tetaplah serigala

doktrin kebencian itu semakin haus
senyumnya tak lagi mampu bertahan untuk menipu
haus akan pertentangan dan pertumpahan darah

Mei 2017

Wasiat Buruh Pelitur

mereka bilang aku mampus
karena tak menemukan utuh
jasad badanku
karena darah
serta geletak bangkai manusia
tak pengaruhi pesta pora
dalam istana ibukota

mereka tak pernah tahu
aku masih hidup
terus mengintai para perampok itu
mereka bisa ngomong
pejuang vietkong
sebagai pemberontak
mereka bisa ngomong
pejuang kuba
sebagai teroris
pun aku
sebagai sampah pinggiran
tapi mereka tak pernah tahu
aku masih hidup
terus mengintai para perampok itu

untukmu penguasa tanah
jangan kira aku mati
karena aku takkan sudi
jeritanku terus menggema
datang dari ranting pohon
yang diratakan aspal jalanan
dari sumur-sumur tua
yang dimasukkan bangkai manusia
dari riak air sungai
yang memerah darah manusia
dari desir udara
yang melahirkan seribu aku
menuntut keadilan
yang dulu kau renggut

untukmu kasihku
kau tahu
aku selalu merindu
dan aku masih hidup
walau hanya bisa menatap jauh
aku akan segera pulang
walau akan segera pergi kembali
menuntut hak-hak yang dicerabut
dari kamar sempit kontrakan kita

untukmu buah hatiku
kalau ada yang menanyakan
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja:
karena bapakku orang berani
terus melawan meski sendiri
bapakku belum mati
dan akan segera kembali

jawa timur, april 2017

Mari Kita Gelar Karpet Merah

sambutlah dengan meriah
dengan wajah ceria
dengan hati gembira
berbagai gaya hidup kekinian
biar tidak kaku perkembangan zaman
amerika, inggris, perancis
spanyol, jerman, portugis
jepang, korea, china
arab, india, thailand
sambutlah dengan meriah
kita kasih gelar karpet merah

tinggalkan, musnahkan, bumihanguskan
berbagai tradisi kolot juga ndeso
tak perlu mereka melestari
karena istiadat telah usang
sementara perkembangan iptek semakin melesat
adat dan budaya tradisional dikubur rapi saja
di bawah karpet merah yang kita gelarkan

marilah mari kita berbahagia
kita sambut dengan perayaan meriah
atas datangnya tradisi kekinian
atas mampusnya kebudayaan daerah

Kelahi

bocah itu terus berkelahi di tengah hujan badai
deru nafas yang nampak menguap tebal beradu
dengan tetes-tetes air asam dan air keringat

entah berapa kali terlempar dan terpelanting
serta pukulan yang ia layangkan dan ia terima
menghias hitam lebam di sekujur tubuhnya

bocah itu tak tahu harus bertahan sampai kapan
tanpa kesempatan untuk bertanya sepatah pun
atas kenyataan yang terus menghujam tubuh mungilnya

kita lah bocah kecil yang berkelahi itu
kita lah yang berkelahi dengan waktu
kita lah bocah yang bergulat dengan diri sendiri

Tutur Aksara Tentang Alam

Asri bernyanyi membuai pertiwi
Dengan kasih ibunda Sri kepada bumi
Kokohkan gunung-gunung menjulang tinggi
Lapangkan hijau lembah luas terhampar
Temani lari kecil anak-anak di pelukan alam

Sungai-sungai senandungkan kehidupan
Menyanyi riang dari gunung ke persawahan
Berkejar-kejaran dengan hewan dan tetumbuhan
Berbagi kisah kepada setiap bait para pencerita
Mewujud nafas mamayu hayuning bhuwana

Dedaunan bergerak melambai-lambai
Tiupkan salam bersama hembusan angin
Memangku pena setiap hikayat mengabadi
Menjadi kawan berkisah bersama mentari
Suburkan cinta di setiap mata dan hati

Lalu berpindahlah gerak awan-awan
Berputar waktu siang dan malam
Datanglah makhluk-makhluk yang tak bermalu
Menggilas nurani hayati dengan mesin bergerigi
Tumpahkan limbah dan bangkai di berbagai sajak udara

Hijau dan biru berganti kelabu
Kabut sejuk berganti asap beracun
Hewan tumbuhan dan manusia mati membusuk
Dengan inovasi teknologi yang saling berebut
Lumrahkan luka-luka mutasi pada setiap makhluk

Kini alam menangis sunyi
Sebab karunia berganti bencana
Rintik hujan menjadi musibah
Bercampur asam menjelma racun
Lukai rahim tempat mengandung

Ini dongeng yang mewujud duka
Tertutur aksara kepada para manusia
Sebagai cerita yang seakan tak nyata
Bahwa kasih alam hadir menimang manusia
Sekaligus menjadi saksi tetesan air mata

ketawanggede, malang. 2017