Kebanggaan Kedaerahan Adalah Kemunduran Suatu Bangsa?

Jika kebanggaan kedaerahan adalah kemunduran suatu bangsa bagi seorang Hatta, lantas bagaimana dengan pengangkatan nilai2 luhur yang berasal dari adat istiadat dan maupun ajaran kedaerahan?

Sejauh yang saya ketahui, identitas Indonesia sebagai suatu bangsa merupakan sebentuk identitas dari beragam kedaerahan yang saling berkomplemen satu sama lainnya, mulai dari Sabang hingga Merauke.

Jika kebhinnekaan identitas dan istiadat kedaerahan dibinasakan dengan dalih meng-eka-kan sebuah identas baru bernama Indonesia, tidakkah nilai2 luhur yang terkandung pada istiadat kedaerahan akan berujung pada keberpunahan?

Tidakkah sebuah bangsa yang kokoh berpondasi sejarah kebudayaan yang kokoh pula? Sebab dari mana keluhuran nilai2 sosial yang dipegang suatu bangsa jika bukan berasal dari nilai2 luhur adat kebudayaan kedaerahan? Tidakkah itu semua terbentuk dari dilestarikannya adat kebudayaan daerah?

Menganggap pemikiran seorang Moh. Hatta demikian tanpa pijakan bacaan2 atas seluruh tulisan yang beliau tulis serta studi mendalam mengenainya tentu saja merupakan kesimpulan yang terburu2. Namun saya berpendapat bahwa direnungkannya sebuah pernyataan yang saya tuliskan di awal tadi sebagai perbekalan dialektik malam ini bukanlah suatu kegiatan yang tak bermanfaat sama sekali. Setidaknya bermanfaat untuk sedikit bersenam pikir. Tidakkah demikian?

Wallahu a’lam bisshawab

Advertisements

Suatu Malam yang Membingungkan nan Menjengkelkan

“assalamualakum bro”
“waalaikumussalam mas..”
*hening, entah kapan balasan diread*

Beberapa bulan kemudian kejadian terulang dan terus terulang lagi. Semenjak pesan-pesan saya buntu, saya mulai sebal dengan sapaan-sapaan kosong si doi.

Suatu ketika setelah salam seperti di atas, akhirnya doi membalas dan meminta nomor whatsapp saya yang sebelumnya juga sudah pernah terjadi kejadian di atas pada nomor wa saya. Dengan kata lain saya pun sudah pernah memberi nomor wa saya. Rada kesal dengan kejadian yang selalu berulang kurang lebih seperti di atas terus, saya bilang dengan (mencoba) santai, “komunikasi lewat line aja mas”. Karena terus terang saya merasa terganggu dengan pesannya yang sepertinya tidak penting-mrepet tidak jelas itu. Tiba-tiba saja ia membalas ketus:

“Leh
Repot emen kamu
Sok Sokan”

Kan patek celeng :v

Sepenggal Kisah 12/04/17 Malam

“Nah, masih kurang lima ratus yah,” ujar akang penjaga warkop seraya memberikan uang kembalian lebih di atas meja warkop sederhana itu. “Duh lah ngutang deui euy,” keluhku mendapati uang kembalian lebih yang kata lainnya adalah lagi-lagi aku kembali berhutang. “Kamu memang selalu kurang di hadapan Jurig,” celetuk si akang asal. Jurig adalah sapaan akrab si akang ke setiap pengunjung di warkop remang-remang bernuansa hijau itu. Yang dimaksudkannya jurig di celetukannya tadi adalah panggilan akrab untuk dirinya sendiri. “Maha jurig memang si akang mah lah,” tutupku di akhir cerita singkat warkop remang-remang itu tadi malam.

Sebuah Catatan Pribadi: Antara Gue, Materi dan Penampilan

[Sebelumnya mohon maaf. Tulisan ini adalah guratan kekesalan pribadi. Jadi mohon maaf kalau di sana-sini ditemukan berbagai kata yang “tak menyenangkan” untuk didengar.]

Sek ta lah cah. Duit itu emang ga selalu berkonotasi negatif. Banyak orang yang bisa kita bantu kalau kita jadi orang kaya. Oke2, gue paham cah. Tapi apa semuanya harus diukur make ukuran materi? Duit? Kekayaan? Kemewahan?

Kita diajarkan kearifan lokal cah, bahwa materi bukanlah segalanya. Apakah dengan pakaian seadanya bahkan tampang compang-camping kita ga bisa membantu orang lain? Ga bisa bahagiain orang lain? Kalau ukuran yang dipake materi tok yo emang ga bakal sampe akal. Tapi inget, kearifan lokal mengajari kita bahwa banyak yang dapat kita bagikan tanpa harus berupa materi.

Jadi tolong ga usah banyak bacot kalo gua emang ga gitu seneng segala yang berpenampilan glamourish, keren nan ketje. Tukang asongan yang compang-camping buat sekedar nyukupin kebutuhan lebih gua sukain daripada orang yang kerjaannya ambisius ngejar materi dengan penampilan kecenya setiap hari. Duit lagi duit lagi. Taek ah

malang, 25 Maret 2017

Catatan 24-03-17

Aku tak pernah tahu sudah berapa jauh aku berjalan. Ya, memang aku sudah tak seperti aku yang dulu. Pun aku memang tak menginginkan tetap menjadi sosok yang dulu itu.
Telah lama kutinggalkan rumah masa kecilku. Kutinggalkan pula sanak saudara serta keluargaku. Kutinggalkan pula madrasah guru-guru dan teman-temanku. Aku terus berjalan mencari tujuan yang aku pun tak tahu pasti akan hal itu. Aku hanya terus berjalan, bersama setiap bayangan yang selalu setia menemaniku atau mungkin lebih tepatnya menghantuiku. Ingin rasanya aku menjelma angin yang berlalu begitu saja, tanpa seorang pun yang memperdulikan kepergiannya. Entahlah, mungkin aku hanya butuh udara segar saja..