Sepenggal Kisah 12/04/17 Malam

“Nah, masih kurang lima ratus yah,” ujar akang penjaga warkop seraya memberikan uang kembalian lebih di atas meja warkop sederhana itu. “Duh lah ngutang deui euy,” keluhku mendapati uang kembalian lebih yang kata lainnya adalah lagi-lagi aku kembali berhutang. “Kamu memang selalu kurang di hadapan Jurig,” celetuk si akang asal. Jurig adalah sapaan akrab si akang ke setiap pengunjung di warkop remang-remang bernuansa hijau itu. Yang dimaksudkannya jurig di celetukannya tadi adalah panggilan akrab untuk dirinya sendiri. “Maha jurig memang si akang mah lah,” tutupku di akhir cerita singkat warkop remang-remang itu tadi malam.

Sebuah Catatan Pribadi: Antara Gue, Materi dan Penampilan

[Sebelumnya mohon maaf. Tulisan ini adalah guratan kekesalan pribadi. Jadi mohon maaf kalau di sana-sini ditemukan berbagai kata yang “tak menyenangkan” untuk didengar.]

Sek ta lah cah. Duit itu emang ga selalu berkonotasi negatif. Banyak orang yang bisa kita bantu kalau kita jadi orang kaya. Oke2, gue paham cah. Tapi apa semuanya harus diukur make ukuran materi? Duit? Kekayaan? Kemewahan?

Kita diajarkan kearifan lokal cah, bahwa materi bukanlah segalanya. Apakah dengan pakaian seadanya bahkan tampang compang-camping kita ga bisa membantu orang lain? Ga bisa bahagiain orang lain? Kalau ukuran yang dipake materi tok yo emang ga bakal sampe akal. Tapi inget, kearifan lokal mengajari kita bahwa banyak yang dapat kita bagikan tanpa harus berupa materi.

Jadi tolong ga usah banyak bacot kalo gua emang ga gitu seneng segala yang berpenampilan glamourish, keren nan ketje. Tukang asongan yang compang-camping buat sekedar nyukupin kebutuhan lebih gua sukain daripada orang yang kerjaannya ambisius ngejar materi dengan penampilan kecenya setiap hari. Duit lagi duit lagi. Taek ah

malang, 25 Maret 2017

Catatan 24-03-17

Aku tak pernah tahu sudah berapa jauh aku berjalan. Ya, memang aku sudah tak seperti aku yang dulu. Pun aku memang tak menginginkan tetap menjadi sosok yang dulu itu.
Telah lama kutinggalkan rumah masa kecilku. Kutinggalkan pula sanak saudara serta keluargaku. Kutinggalkan pula madrasah guru-guru dan teman-temanku. Aku terus berjalan mencari tujuan yang aku pun tak tahu pasti akan hal itu. Aku hanya terus berjalan, bersama setiap bayangan yang selalu setia menemaniku atau mungkin lebih tepatnya menghantuiku. Ingin rasanya aku menjelma angin yang berlalu begitu saja, tanpa seorang pun yang memperdulikan kepergiannya. Entahlah, mungkin aku hanya butuh udara segar saja..