Selayang Pandang Mengenai Belajar Tulis-Menulis

Tak sedikit orang yang mencoba membiasakan menulis, menuangkan letupan2 ide di kepalanya yang biasanya dapat kubaca sekilas merupakan ide2 segar untuk konsumsi publik. Tapi entah karena faktor apa, mereka menulis dengan format penulisan tata bahasa yang membuatku bingung membacanya. Entah ambigu dimana2, antar kalimat yang saling tidak relevan, penggunaan kata ganti pertama yang sering berganti2 dalam satu tulisan yang sama, sampai penggunaan tanda baca asal yang kesemuanya membuat aku pribadi, sakit mata sampai sedikit geli membacanya. Apalagi kalau ada di antara mereka yang menulis seperti itu dengan diksi yang mendayu2. Waduh, tak kuat rasanya mataku berlama2 membacanya.

Soal diksi dan semacamnya, bukannya aku alergi dengan penggunaan diksi, metafora dan semacamnya. Namun entah mengapa aku merasa geli sekali melihat kalimat2 penuh kias itu ditulis dengan model format kebahasaan dan penulisan asal seperti yang kuceritakan tadi. Seperti tulisan asal. Meskipun tentu saja aku tahu bisa jadi hampir semua tulisan2 itu ditulis dengan sepenuh hati.

Melihat rentangan umur para penulisnya pun membuatku semakin mengernyitkan dahi. Ada apa mereka yang berumur dua puluhan ke atas itu, bahkan kebanyakan di antara mereka adalah akademisi, tokoh2 pelajar maupun terpelajar, namun seperti tidak pernah belajar tata cara menulis yang baik sesuai pedoman kebahasaan? Bagaimana mereka bisa sampai kalah paham mengenai hal itu dengan seorang anak SMA Banyuwangi yang belajar menulis dan sempat ramai menjadi pembicaraan beberapa waktu terakhir? Anak SMA, bung!

Apa yang salah dari standar pendidikan kebahasaan yang terdapat di sekolah2 kita sampai terjadi fenomena seperti ini? Ataukah ada faktor sosiologis lainnya yang luput dari pandanganku sehingga aku berpandangan sempit, rigid dan ortodoksis dalam mengamati fenomena ini?

Tulisan singkat ini bukan sebuah kritik sosial yang disertai riset mendalam dan sebagainya. Tak lain hanyalah sebentuk dari letupan2 ide yang tidak kuat kutahan di kepalaku setelah sekian lama bercokol di sana. Barangkali dari orang2 yang menanggapi tulisan ini nantinya aku bisa semakin arif berpikir dan bertindak dalam menyikapi fenomena2 sosial seperti ini yang ada di sekitar kita. Semoga Allah melindungiku khususnya, dan juga kita semua dari kependekan bernalar, kenaifan berpikir. Allahmumma amin.

Advertisements

2 thoughts on “Selayang Pandang Mengenai Belajar Tulis-Menulis

  1. Wah seperti apa contohnya?

    Kalau saya kok nulisnya sesuai tema iya. Kalo nulis soal hukum iya tulisan saya jadi formal, kalo soal sastra tulisanku aku buat rapi/puitis. Selain itu aku buat lebih ekspresif biar keliatan komunukatif

    • yang jelas penulis2 di blog model wordpress atau yang lainnya gini setidaknya lebih “menyehatkan” untuk mata buatku heuu.
      Aku mau ngasih contoh tulisannya di forum umum gini juga ga enak hati takut orangnya lihat wkwk

      Jadi contoh aku kirim ke fbmu aja ya. formatnya screenshot. 2 tulisan dari 2 orang berbeda

      Dalam beberapa kasus seperti penggunaan sosial media secara santai memang tak mesti dengan gaya bahasa baku, kaku dan seterusnya. Tapi kalau sudah menjurus ke penuliskan esai, atau apa lah yang tulisannya lumayan panjang dan rada serius ditulis dengan model begitu? argh.. sakit mataa

      PS: bang Ogie Urvil sih pengecualian. Emang santai pembawaannya sih wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s