Catatan Singkat Mengenai Rasa Malu Dalam Islam

Seingat saya ada hadits Nabi saw yang mengatakan, “rasa malu (alhaya-u) merupakan sebagian dari keimanan”. Rasa malu merupakan bentuk daripada kontrol akal kepada hawa nafsu. Nafsu yang bersifat fitrah pada setiap hewan, termasuk manusia. Nafsu hayawani, nafsu hewani.

Akal mengekang manusia untuk bertindak sesuai alur alamiah hewannya, dengan bentuk pemikiran rasional. Rasionalitaslah yang membedakan antara manusia dengan hewan.

Saya tidak bermaksud menyinggung sebagian orang yang mengesampingkan atau bahkan mentabukan rasionalitas berpikir, penalaran kritis dengan menyamakannya kepada hewan. Namun saya bermaksud mencatat sedikit dari pemahaman yang saya dapatkan baru2 ini. Mengenai hadits Nabi saw terhadap peran rasa malu dalam beragama.

Yakni tiada beragama bagi yang tidak berakal. Agama hanya untuk makhluk yang berakal. Sebagai pengekang kehendak naluri hewani yang terdapat pada manusia. Al misbahu fiz zujajah. Yang menyelubungi naluri hewani dengan keluhuran budi pekerti yang hanya dapat dipahami oleh bahasa makhluk2 yang berakal.

Wallahu a’lam..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s