Antara Video Game dan Sosial Media: Pelarian dari Kenyataan?

Singkat saja, seorang guru saya pernah berkata suatu waktu di kelas, memantik para murid yang hadir waktu itu untuk berpikir. “Kenapa anak kecil cenderung menyukai video game?” Berbagai macam spekulasi memenuhi kepala kami, namun tak satu pun dari kami yang berhasil menuangkannya ke dalam kata2.

Karena dalam hening yang mendebarkan itu tidak ada yang menyampaikan isi kepalanya, bapak guru menuntun kami ke arah jawaban dari pertanyaan tsb. “Kenapa anak kecil menyukai video game? Karena disana terdapat sebuah sistem penghargaan, award, achievement. Seperti naik level, mendapat item baru dan lain sebagainya. Kata kuncinya di situ: penghargaan. Mereka merasa dihargai di sana, sesuatu yang tidak mereka dapatkan di dunia nyata.”

“Menarik..” pikir saya. Terutama di bagian akhir, “sesuatu yang tidak mereka dapatkan di dunia nyata”. Terkait judul di atas tiba2 saya teringat, saya pun pernah merasakan (jaman biyen yaampun.. barangkali sampe sekarang kali), bahwa kenapa saya bercuap2 ria akan hal2 pribadi yang tak penting di sosmed yang notabene ruang publik, sebuah ruang terbuka? Karena saya ingin mendapatkan pengakuan eksistensi, keberadaan diri, sesuatu yang waktu itu tidak saya rasakan di dunia nyata. Apa yang sama dari keduanya? Pelarian dari kenyataan. Tidakkah seperti itu? (yang saya ceritakan mengenai kasus sosmed saya itu hanya bentuk dr studi kasus, kalau tertarik ya mangga direnungkan..)

Hemm… Belakangan saya menyadari, bahwa sosial media adalah ruang terbuka. Siapapun bebas “menelanjangi” isi kepala kita bahkan siapa kita di sana. Oh tentu di sana terdapat opsi pengaturan privasi dan semacamnya. Namun sebijak apakah kita, semengerti apakah kita mengenai apa2 saja informasi yang bisa kita bagikan secara publik, mana yang bukan? Tidakkah?

Sebenarnya tulisan (geblek) ini lebih condong ke penggunaan sosial media. Mari kembali ke pertanyaan muara yang ada di kepala kita. “Siapa kita?”. Setelah membaca apa yang saya tuliskan di atas, mari melompat ke pertanyaan selanjutnya: “Untuk alasan apakah kita mencari keberadaan serta pengakuan diri? Apa yang sebenarnya kita harapkan, inginkan?”. Pertanyaan menarik lainnya, “Mengapa pelarian yang dilakukan sebagian orang (pada kasus video game dan sosmed yg kita perbincangkan barusan) berbentuk maya? Maksud saya, kenapa orang2 tsb lari dari kenyataan dan mencari eksistensi di alam maya, sebuah ketidaknyataan?”

Sekian pertanyaan2 geblek mbulet dari saya dini hari ini. Silahkan mengembangkan pertanyaan2 geblek sahabat2 sekalian sendiri.

Selamat berdekonstruksi-rekonstruksi pikiran, selamat sarapan sahur, selamat menaikkan berat badan :v

ps: dg tulisan ini saya ga menuntut jawaban di kolom komentar, saya hanya bermaksud memantik hasrat berpikir sahabat2 fb saja. Tidakkah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s