Kelahi

bocah itu terus berkelahi di tengah hujan badai
deru nafas yang nampak menguap tebal beradu
dengan tetes-tetes air asam dan air keringat

entah berapa kali terlempar dan terpelanting
serta pukulan yang ia layangkan dan ia terima
menghias hitam lebam di sekujur tubuhnya

bocah itu tak tahu harus bertahan sampai kapan
tanpa kesempatan untuk bertanya sepatah pun
atas kenyataan yang terus menghujam tubuh mungilnya

kita lah bocah kecil yang berkelahi itu
kita lah yang berkelahi dengan waktu
kita lah bocah yang bergulat dengan diri sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s