Wasiat Buruh Pelitur

mereka bilang aku mampus
karena tak menemukan utuh
jasad badanku
karena darah
serta geletak bangkai manusia
tak pengaruhi pesta pora
dalam istana ibukota

mereka tak pernah tahu
aku masih hidup
terus mengintai para perampok itu
mereka bisa ngomong
pejuang vietkong
sebagai pemberontak
mereka bisa ngomong
pejuang kuba
sebagai teroris
pun aku
sebagai sampah pinggiran
tapi mereka tak pernah tahu
aku masih hidup
terus mengintai para perampok itu

untukmu penguasa tanah
jangan kira aku mati
karena aku takkan sudi
jeritanku terus menggema
datang dari ranting pohon
yang diratakan aspal jalanan
dari sumur-sumur tua
yang dimasukkan bangkai manusia
dari riak air sungai
yang memerah darah manusia
dari desir udara
yang melahirkan seribu aku
menuntut keadilan
yang dulu kau renggut

untukmu kasihku
kau tahu
aku selalu merindu
dan aku masih hidup
walau hanya bisa menatap jauh
aku akan segera pulang
walau akan segera pergi kembali
menuntut hak-hak yang dicerabut
dari kamar sempit kontrakan kita

untukmu buah hatiku
kalau ada yang menanyakan
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja:
karena bapakku orang berani
terus melawan meski sendiri
bapakku belum mati
dan akan segera kembali

jawa timur, april 2017

Sepenggal Kisah 12/04/17 Malam

“Nah, masih kurang lima ratus yah,” ujar akang penjaga warkop seraya memberikan uang kembalian lebih di atas meja warkop sederhana itu. “Duh lah ngutang deui euy,” keluhku mendapati uang kembalian lebih yang kata lainnya adalah lagi-lagi aku kembali berhutang. “Kamu memang selalu kurang di hadapan Jurig,” celetuk si akang asal. Jurig adalah sapaan akrab si akang ke setiap pengunjung di warkop remang-remang bernuansa hijau itu. Yang dimaksudkannya jurig di celetukannya tadi adalah panggilan akrab untuk dirinya sendiri. “Maha jurig memang si akang mah lah,” tutupku di akhir cerita singkat warkop remang-remang itu tadi malam.

Mari Kita Gelar Karpet Merah

sambutlah dengan meriah
dengan wajah ceria
dengan hati gembira
berbagai gaya hidup kekinian
biar tidak kaku perkembangan zaman
amerika, inggris, perancis
spanyol, jerman, portugis
jepang, korea, china
arab, india, thailand
sambutlah dengan meriah
kita kasih gelar karpet merah

tinggalkan, musnahkan, bumihanguskan
berbagai tradisi kolot juga ndeso
tak perlu mereka melestari
karena istiadat telah usang
sementara perkembangan iptek semakin melesat
adat dan budaya tradisional dikubur rapi saja
di bawah karpet merah yang kita gelarkan

marilah mari kita berbahagia
kita sambut dengan perayaan meriah
atas datangnya tradisi kekinian
atas mampusnya kebudayaan daerah

Kelahi

bocah itu terus berkelahi di tengah hujan badai
deru nafas yang nampak menguap tebal beradu
dengan tetes-tetes air asam dan air keringat

entah berapa kali terlempar dan terpelanting
serta pukulan yang ia layangkan dan ia terima
menghias hitam lebam di sekujur tubuhnya

bocah itu tak tahu harus bertahan sampai kapan
tanpa kesempatan untuk bertanya sepatah pun
atas kenyataan yang terus menghujam tubuh mungilnya

kita lah bocah kecil yang berkelahi itu
kita lah yang berkelahi dengan waktu
kita lah bocah yang bergulat dengan diri sendiri