Tentang Agama dan Kebudayaan di Era Global

Berbicara tentang era global tidak bisa dilepaskan dari pengaruh arus pemikiran luar yang masuk ke dalam negeri dan mempengaruhi berbagai pola pikir serta pola hidup masyarakat. Seperti yang biasa saya bicarakan sebelumnya, bahwa setiap kultur memiliki nilai plus minus masing-masing. Sejarah juga mencatat bahwa kemerdekaan bangsa kita dari penjajahan tiga setengah abad silam tidak terlepas dari dibukanya keran edukasi masyarakat sedikit demi sedikit melalui politik etis pada zaman kolonial VOC di mana sebagian bumiputera mempelajari pemikiran revolusioner yang berasal dari luar negeri dan menyebarkannya kepada masyarakat. Gagasan-gagasan dari luar negeri itu setahu saya yang awam ini yang termasuk menjadi motor penggerak perlawanan bangsa secara serempak untuk melawan imperialisme penjajah yang setelah sekian lama menancapkan taringnya di tanah air untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di bumi nusantara.

Kembali ke masa sekarang, kita dapati bahkan semenjak zaman kakek-nenek kita, arus pemikiran yang berasal dari luar negeri ini banyak sekali memberi pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan kemasyarakatan di dalam negeri termasuk yang berkaitan dengan topik tulisan saya kali ini, yakni aspek kebudayaan. Yang saya amati dari arus pola pikir luar negeri (biasanya berkembang dari barat), hal-hal yang tak luput dari dasar falsafah yang disebar-kembangkan ke negara-negara dunia ketiga oleh “pemegang kendali” arus globalisasi setidaknya adalah kacamata untung-rugi, serta penggusuran kebudayaan lokal melalui pelaziman kebudayaan-kebudayaan luar negeri yang cukup bertentangan dengan kearifan lokal.

Seperti yang sering saya baca dari ceramah-ceramah mengenai era global, bahwa “kita harus selektif dalam menyambut arus deras globalisasi”. Namun kenyataan tak sesimpel apa yang diucapkan khotib-khotib itu di mimbar kebesarannya. Pada prakteknya, saya dapati hampir seluruh masyarakat yang menerima arus globalisasi khususnya pada sebagian daerah yang arus ini bergerak sedemikian derasnya itu sulit sekali melakukan seleksi terhadap pemikiran-pemikiran yang berseliwer ria di era globalisasi seperti sekarang, terlebih di zaman perkembangan teknologi informasi seperti sekarang yang semakin memudahkan persebaran informasi di seluruh dunia.

Upaya penggusuran kebudayaan lokal yang telah saya singgung sebelumnya menyebabkan persaingan kebudayaan antara kebudayaan global dan kebudayaan lokal ini terlihat kentara sekali. Dapat kita saksikan di berbagai daerah di mana tersebarnya stigma ndeso, udik untuk orang-orang yang tidak nampak kekota-kotaan baik itu dari segi wawasan maupun kebahasaan, dialek logat. Kalau bahasa gaulnya mah alias kudet-kuper lah. Nah, pada masa persaingan kebudayaan inilah saya lihat agama mulai mencuat menampilkan peran juga, ga mau ketinggalan peran gitu kasarannya.

Dari beberapa studi tulisan ringan serta pengamatan lapangan, saya si awam ini mendapati sebagian lingkar pengajaran agama menanamkan doktrin purifikasi, yakni seorang agamawan yang baik adalah yang taat patuh terhadap ajaran agamanya secara mutlak. Patuh taat mutlak di sini berarti ketaatan beragama dari ritual keagamaan secara zahir, yang nampak sampai keseluruhan aspek kehidupan yang “sesuai dengan ajaran agama”, seperti pola berinteraksi, cara berpikir, tata berbahasa sampai berkebudyaaan. “Semua diatur agama” katanya. Padahal sejauh saya melakukan crosscheck ke beberapa ahli agama dari lingkungan kolot yang masih kental nilai-nilai keagamaannya dalam berbagai lembaga pendidikan dan kebudayaannya kemudian menyandingkan apa-apa yang diajar-kembangkan di sana dengan kebudayaan lokal yang semenjak dulu telah berkembang di tengah masyarakat, apa-apa yang telah tertata-budayakan dalam kebudayaan lokal hampir-hampir tidak ada yang berbenturan dengan ajaran-ajaran keagamaan. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran kebudayaan lokal adalah ajaran-ajaran kemanusiaan yang bersifat universal.

Sejauh pengetahuan minim saya mengenai kebudayaan lokal, nilai-nilai yang terkandung di balik ajaran-ajaran kebudayaan lokal pun sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran kebajikan yang berasal dari berbagai agama dan kepercayaan yang silih datang dan berkembang di Nusantara. Jadi menurut saya yang awam ini sebenarnya ketika seseorang menghidupkan ruh kebudayaan lokal, secara tak langsung ia telah menghidupkan ruh dari nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam ajaran-ajaran keagamaan dan kepercayaan universal. Apa yang saya maksud ajaran-ajaran keagamaan dan kepercayaan universal di sini adalah ajaran-ajaran kebajikan yang terkandung dalam hampir setiap agama dan kepercayaan yang mana ajaran-ajaran tersebut tidak bertentangan dengan ajaran dari berbagai agama dan kepercayaan lainnya.

Jadi berdasar pemikiran cetek saya itulah saya menarik kesimpulan bahwa menjadi seorang agamawan taat tidak harus menghilangkan jati diri dari kearifan lokal yang telah mengakar kebudayaan di tanah air. Mengutip perkataan Almarhum Gus Dur mengenai agamanya, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.” Jadi kalau ada yang bermaksud menyebarkan “purifikasi” seperti yang saya sebut sebelumnya dengan mengatakan bahwa beragama haruslah secara tamam, secara kaffah, saya katakan kepada sekalian mereka melalui tulisan ini bahwa semua kaffah-isasi itu cuma omong kosong untuk berjualan, soal untung-rugi, omzet, dan mencari basis massa sebanyak-banyaknya. Kalau kata peribahasa barat -di mana barat deket sekali baik secara diplomatik maupun pemikiran dengan Saudi Arabia semenjak beberapa puluh tahun ini, “there’s no such thing as a free lunch.” Itu kalau pola pikirnya disamakan dengan Saudi Arabia maupun pemikiran barat secara general.

Wallahu a’lam bisshawab…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s