Sebuah Catatan Pribadi: Antara Gue, Materi dan Penampilan

[Sebelumnya mohon maaf. Tulisan ini adalah guratan kekesalan pribadi. Jadi mohon maaf kalau di sana-sini ditemukan berbagai kata yang “tak menyenangkan” untuk didengar.]

Sek ta lah cah. Duit itu emang ga selalu berkonotasi negatif. Banyak orang yang bisa kita bantu kalau kita jadi orang kaya. Oke2, gue paham cah. Tapi apa semuanya harus diukur make ukuran materi? Duit? Kekayaan? Kemewahan?

Kita diajarkan kearifan lokal cah, bahwa materi bukanlah segalanya. Apakah dengan pakaian seadanya bahkan tampang compang-camping kita ga bisa membantu orang lain? Ga bisa bahagiain orang lain? Kalau ukuran yang dipake materi tok yo emang ga bakal sampe akal. Tapi inget, kearifan lokal mengajari kita bahwa banyak yang dapat kita bagikan tanpa harus berupa materi.

Jadi tolong ga usah banyak bacot kalo gua emang ga gitu seneng segala yang berpenampilan glamourish, keren nan ketje. Tukang asongan yang compang-camping buat sekedar nyukupin kebutuhan lebih gua sukain daripada orang yang kerjaannya ambisius ngejar materi dengan penampilan kecenya setiap hari. Duit lagi duit lagi. Taek ah

malang, 25 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s