Long Distance Ngalor-Ngidul

Setelah sekian lama tidak berkomunikasi, malam ini Sujana mengirimiku sms. Ia mengajakku mengobrol santai alias ngalor-ngidul via sms. Gabut katanya. Berhubung malam ini aku tak begitu punya kesibukan, ber-sms ria lah aku dengannya. “LDNN, Long Distance Ngalor-Ngidul,” dia mengistilahkan. Sujana memang selalu seperti itu. Pola pikirnya yang sering “out of the box” ini yang selalu bikin aku manggut-manggut tiap mendengarkan celotehan-celotehannya. Bahkan saking “out of the box“nya, ga jarang juga aku ga begitu mudheng atau ga sampai pikir dengan jalan pikirnya.

Malam ini ia menceritakan gelisahnya padaku. Singkat cerita menurut Sujana, para mahasiswa seharusnya bisa–atau setidaknya memikirkan cara untuk bisa–mengatasi permasalahan-permasalahan sosial yang ada di sekitar masyarakat. Karena toh mau tidak mau mereka pada akhirnya akan berada di tengah-tengah masyarakat selepas pendidikan mereka di kampus nanti. Memang ada beberapa kaum intelektual yang memutuskan turun langsung ke lapangan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di lingkungan masyarakat. Namun sepenangkapannya, Sujana menyimpulkan bahwa kebanyakan kawan-kawannya di kampus bahkan kawan-kawan mahasiswa di seluruh Indonesia katanya, masih jarang sekali yang mau berpikir ke arah sana. Kebanyakan masih egosentris. Masih hanya memikirkan tentang dirinya sendiri, entah kesenangannya, ambisinya, dan lain sebagainya. Ada juga sebagian yang sudah sampai tahap memikirkan masyarakat. Tapi terlalu sibuk memperdebatkan konsep teoritis sehingga pada prakteknya, kontribusi yang diberikan kepada masyarakat dari debat kusir-debat kusir itu masih cenderung minim. Aku sendiri mungkin lebih cocok jadi yang pertama tadi. Kalau Sujana? Menurutku sih, bisa jadi sebenarnya masih berputar-putar di yang kedua juga heuheu..

“Saya melihat sepertinya ada yang salah dari pola pendidikan seperti ini,” ujar Sujana. “Emang yang salah kira-kira menurutmu dimananya, Jan?” tanyaku. Tentu dalam bahasa sms alias dengan pemangkasan berbagai karakter penghemat pengeluaran pulsa. “Sekarang gini. Orang tua kita dari kecil menyekolahkan kita pakai uang yang ga sedikit. Bahkan semakin tinggi pendidikannya, semakin tinggi juga bayarannya.” Sms terputus. Aku tahu dia akan berbicara sedikit panjang dalam sambungan rantai sms. Jadi aku meninggalkan hp untuk mengambil air minum sebentar kemudian kembali ke atas ranjang kecil kostku. Dalam waktu singkat Sujana sudah mengirimkan pesan rantai selanjutnya. “Jadi wajar aja kan kalau banyak orang tua itu menuntut anak-anaknya untuk mempunyai pekerjaan yang ‘mapan’ yang bisa menghasilkan banyak uang? Sebagai setidaknya pengganti rasa hilang dari uang-uang yang jumlahnya tidak sedikit tadi, yang habis digunakan untuk menyekolahkan anak-anaknya.” Ah, naif kawanku ini pikirku. “Terus maksudmu seharusnya wali murid ga perlu mengeluarkan biaya pendidikan untuk nyekolahkan anak-anaknya? Yok opo seh, Jan? Kalau ga dibayar sama wali murid, terus guru-guru dan staff sekolahan gajinya dari mana? Mereka juga kan punya keluarga, butuh makan, Jan. Negara benahin permasalahan-permasalahan yang skala kompleksitasnya lebih kecil dari kependidikan aja seringkali masih agak repot. Apalagi kalau mesti ngurus subsidi seluruh elemen institusi kependidikan yang cukup kompleks?” sanggahku. Sip, dengan pemangkasan-pemangkasan ekstra, ga sampai melebihi batas karakter 1 sms. Kirim. Kembali kuminum air putih di gelas besar hijauku sambil menunggu balasannya.

Pesan masuk. “Nah justru itu kawan. Di situlah salah satu tugas terbesar kita, yaitu untuk menemukan perbaikan sistem yang lebih baik untuk ditawar-ajukan kepada eksekutor pemerintahan untuk diterapkan. Kalau bukan buat membereskan masalah-masalah sosial gini, terus buat apa kita orang sekolah?” Ada-ada saja Sujana ini. “Duh, emang bener kayaknya, Jan. Kejauhan mikirmu itu. Itu mah urusannya mahasiswa sosial. Lah kita kan mahasiswa Ilmu Komputer. Nyleneh ae kamu” jawabku.

Beberapa lama kutunggu balasan tidak datang-datang juga. Ah, barangkali dia jatuh tertidur. Atau mungkin akhirnya dia sadar juga dengan kenyataannya. Kebanyakan berpikir aneh-aneh sih kawanku yang satu ini. Lebih baik sih yang terakhir tadi. Tapi yah, lebih baik aku beristirahat. Sekarang sudah jam 12.03 dan besok aku ada kuliah pagi. Kumatikan lampu kamar kecilku. Tapi tidak lama, hpku kembali bergetar dan menyala. Ada sms masuk. Opo maneh toh Jan? Tentu saja benar, Sujana.

“Oh iyo seh, lali aku. Kan waktu itu kalau ga salah kamu yang ngomong ya? Mahasiswa di beberapa jurusan, dan seperti di jurusan kita itu emang ga cocok jadi penggerak sosial. Mereka dan termasuk kita ini emang cocoknya jadi kerbau perasannya perusahaan. Gitu kan ya, Mi?”

Jangkriik. Ada aja ini orang kelakuannya. Mau mati sementara aja masih suka ngerecokin batin orang gini. Aseemm emang Sujana.

Duh, jadilah semaleman hari ini aku diliputi perasaan tidak enak akibat sms terakhir yang ia kirimkan tadi. Asem emang.[]

*) Cerita singkat ini terinspirasi dari kepolosan tokoh Markesot dan gaya kepenulisan cerita dalam seri tulisan Emha Ainun Nadjib
Advertisements

4 thoughts on “Long Distance Ngalor-Ngidul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s