Tentang Agama dan Kebudayaan di Era Global

Berbicara tentang era global tidak bisa dilepaskan dari pengaruh arus pemikiran luar yang masuk ke dalam negeri dan mempengaruhi berbagai pola pikir serta pola hidup masyarakat. Seperti yang biasa saya bicarakan sebelumnya, bahwa setiap kultur memiliki nilai plus minus masing-masing. Sejarah juga mencatat bahwa kemerdekaan bangsa kita dari penjajahan tiga setengah abad silam tidak terlepas dari dibukanya keran edukasi masyarakat sedikit demi sedikit melalui politik etis pada zaman kolonial VOC di mana sebagian bumiputera mempelajari pemikiran revolusioner yang berasal dari luar negeri dan menyebarkannya kepada masyarakat. Gagasan-gagasan dari luar negeri itu setahu saya yang awam ini yang termasuk menjadi motor penggerak perlawanan bangsa secara serempak untuk melawan imperialisme penjajah yang setelah sekian lama menancapkan taringnya di tanah air untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di bumi nusantara.

Continue reading

Advertisements

Tutur Aksara Tentang Alam

Asri bernyanyi membuai pertiwi
Dengan kasih ibunda Sri kepada bumi
Kokohkan gunung-gunung menjulang tinggi
Lapangkan hijau lembah luas terhampar
Temani lari kecil anak-anak di pelukan alam

Sungai-sungai senandungkan kehidupan
Menyanyi riang dari gunung ke persawahan
Berkejar-kejaran dengan hewan dan tetumbuhan
Berbagi kisah kepada setiap bait para pencerita
Mewujud nafas mamayu hayuning bhuwana

Dedaunan bergerak melambai-lambai
Tiupkan salam bersama hembusan angin
Memangku pena setiap hikayat mengabadi
Menjadi kawan berkisah bersama mentari
Suburkan cinta di setiap mata dan hati

Lalu berpindahlah gerak awan-awan
Berputar waktu siang dan malam
Datanglah makhluk-makhluk yang tak bermalu
Menggilas nurani hayati dengan mesin bergerigi
Tumpahkan limbah dan bangkai di berbagai sajak udara

Hijau dan biru berganti kelabu
Kabut sejuk berganti asap beracun
Hewan tumbuhan dan manusia mati membusuk
Dengan inovasi teknologi yang saling berebut
Lumrahkan luka-luka mutasi pada setiap makhluk

Kini alam menangis sunyi
Sebab karunia berganti bencana
Rintik hujan menjadi musibah
Bercampur asam menjelma racun
Lukai rahim tempat mengandung

Ini dongeng yang mewujud duka
Tertutur aksara kepada para manusia
Sebagai cerita yang seakan tak nyata
Bahwa kasih alam hadir menimang manusia
Sekaligus menjadi saksi tetesan air mata

ketawanggede, malang. 2017

Sebuah Catatan Pribadi: Antara Gue, Materi dan Penampilan

[Sebelumnya mohon maaf. Tulisan ini adalah guratan kekesalan pribadi. Jadi mohon maaf kalau di sana-sini ditemukan berbagai kata yang “tak menyenangkan” untuk didengar.]

Sek ta lah cah. Duit itu emang ga selalu berkonotasi negatif. Banyak orang yang bisa kita bantu kalau kita jadi orang kaya. Oke2, gue paham cah. Tapi apa semuanya harus diukur make ukuran materi? Duit? Kekayaan? Kemewahan?

Kita diajarkan kearifan lokal cah, bahwa materi bukanlah segalanya. Apakah dengan pakaian seadanya bahkan tampang compang-camping kita ga bisa membantu orang lain? Ga bisa bahagiain orang lain? Kalau ukuran yang dipake materi tok yo emang ga bakal sampe akal. Tapi inget, kearifan lokal mengajari kita bahwa banyak yang dapat kita bagikan tanpa harus berupa materi.

Jadi tolong ga usah banyak bacot kalo gua emang ga gitu seneng segala yang berpenampilan glamourish, keren nan ketje. Tukang asongan yang compang-camping buat sekedar nyukupin kebutuhan lebih gua sukain daripada orang yang kerjaannya ambisius ngejar materi dengan penampilan kecenya setiap hari. Duit lagi duit lagi. Taek ah

malang, 25 Maret 2017

Catatan 24-03-17

Aku tak pernah tahu sudah berapa jauh aku berjalan. Ya, memang aku sudah tak seperti aku yang dulu. Pun aku memang tak menginginkan tetap menjadi sosok yang dulu itu.
Telah lama kutinggalkan rumah masa kecilku. Kutinggalkan pula sanak saudara serta keluargaku. Kutinggalkan pula madrasah guru-guru dan teman-temanku. Aku terus berjalan mencari tujuan yang aku pun tak tahu pasti akan hal itu. Aku hanya terus berjalan, bersama setiap bayangan yang selalu setia menemaniku atau mungkin lebih tepatnya menghantuiku. Ingin rasanya aku menjelma angin yang berlalu begitu saja, tanpa seorang pun yang memperdulikan kepergiannya. Entahlah, mungkin aku hanya butuh udara segar saja..

Aku Serigala Penuh Luka Menjijikan

Seluruh nafasku membusuk
Atas nafsu yang terus menagih bunuh
Dengan badan penuh nanah
Atas nurani yang berlumur darah
Berjalan gontai mencari harapan hidup
Atas semua nyawa yang pernah kurenggut
Bercucur darah dan air mata
Dengan nafas yang tersenggal-senggal
Terseok-seok menyeret langkah tinggalkan darah
Berpayah bertahan hidup dengan perih dan penuh kebingungan
Mengorek setiap rumput mencari air mata kehidupan

Aku serigala penuh luka menjijikan
Yang hanya bisa berharap belas kasih-Mu

maret 2017

Satu Rotasi

menyala, lalu meredup kembali
meredup, lalu menyala kembali

tumbuh, lalu patah kembali
patah, lalu tumbuh kembali

kebaikan keburukan terus beradu
bagai gelap terang silih memadu

keadilan ketimpangan terus berotasi
bagai siang malam silih berganti

aku berdiri di alamku
kau berdiri di alammu

akankah kita sadari
eksistensi yang saling berbagi

aku di duniaku, kau di duniamu
aku separuhmu, kau separuhku

akankah kita saling menahu
bisik nurani yang saling menyeru

malang, maret 17

Safar Dedaunan

pada detik ini
biarkan dedaunan mengikuti arah angin
bersentuh muka danau
biarkan dedaunan mengikuti alir sungai
bersentuh bibir lembah
biarkan dedaunan menemukan rumputan
mengering dan tampak menghilang
biarkan dedaunan tumbuhkan akar
menembus tanah membelah langit
bermekaran bunga di tepi surga

2017