Nyambut Bonus Demografi Yuk

Berawal dari obrolan dengan pemilik warung kopi sebelah mengenai kepekaan sosial anak-anak kost yang seringkali bikin geleng-geleng kepala, saya mencoba meramunya dengan event Bonus Demografi yang akan segera tiba sebagai sebuah tulisan lepas. Yah, hitung-hitung mumpung lenggang tugas-tugas juga, jadi bisa nyempet-nyempetin bikin tulisan ngalor-ngidul ini, hehehe.

Sempet denger wacana Bonus Demografi Indonesia? Kalau saya si awam ini ga salah sih, Bonus Demografi merupakan satu kondisi dimana suatu negara memiliki penduduk dengan umur produktif terbanyak dibanding penduduk umur non produktifnya dengan perbandingan yang cukup besar. Hal ini dipandang sebagai “bonus” karena diharapkan para penduduk dengan umur-umur produktif tersebut menjadi tonggak-tonggak perkembangan suatu negara secara pesat (cmiiw). Namun yang saya soroti disini, apa penduduk negara kita tercinta ini siap menyambutnya? Bagaimana persiapannya? Sebagaimana menyambut kedatangan event-event lainnya, menurut saya “event” Bonus Demografi ini pun butuh dipersiapkan “penyambutan kedatangan”-nya.

Kalau bicara penyambutan event yang satu ini sih, sebenarnya banyak aspek yang perlu diperhatikan agar ketika event ini datang, kita bisa memanfaatkan kesempatan emas ini. Agar kesempatan berharga ini tidak lewat begitu saja dengan sia-sia. Namun saya melihat sementara ini sepertinya “penyambutan” ini cukup dimulai dengan membenahi langkah awal dulu. Langkah awal yang saya maksud adalah menumbuhkan kembali kepekaan sosial dan budi pekerti kepada generasi muda-mudi sekarang yang nanti akan menjadi salah satu di antara ledakan penduduk dengan umur produktif pada waktu dekat ini.

Belakangan ini tidak bisa dipungkiri lagi budi pekerti dan kepekaan sosial semakin mengalami degradasi sampai tahap yang cukup kritis, baik dikalangan orang dewasa maupun yang muda-mudi. Meminjam perkataan salah satu guru di kelas, kita ini (Indonesia) sudah punya banyak orang pintar, kita kekurangan orang-orang berbudi pekerti. Betul memang skill merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, terlebih di dalam era persaingan yang semakin menguasai pangsa pasar. Namun sebagaimana seekor burung yang tidak bisa terbang dengan hanya satu sayap, kedua sayap yang saya maksud adalah skill dan budi pekerti-kepekaan sosial. Jika kita (Indonesia) sudah cukup superior di satu sisi (skill), ga tertarik menyeimbangkan sisi lainnya dengan menengok kembali budi pekerti yang mulai ditinggalkan muda-mudi sekarang? Menghidupkan kembali budi pekerti dan kepekasaan sosial pada diri muda-mudi kita memang butuh proses, namun menurut saya jika muda-mudi kita dibimbing untuk kembali memiliki ketertarikan terhadap budi pekerti dan kepekaan sosial, itu tidak akan seberapa mengganggu mereka untuk tetap melanjutkan konsennya dalam mendalami skill yang hendak dikuasai. Dengan begitu kita bisa memantapkan langkah awal kita dengan mewujudkan generasi produktif yang balance.

Harapan awal dari dicapainya keseimbangan ini sebenarnya simpel, menghindarkan generasi produktif ini nanti dari membuat kekacauan, chaos pada saat Bonus Demografi mendatang karena tidak bisa menyeimbangkan antara skill dan budi pekerti-kepekaan sosial. Namun jika dari langkah keseimbangan antara skill dan budi pekerti-kepekaan sosial ini saja tidak bisa dicapai, bagaimana kita bisa menjamin melesatnya perkembangan teknologi serta skill muda-mudi ini bisa memajukan tanah air tanpa menimbulkan chaos di masa mendatang?

Dengan menulis tulisan begini bukan berarti saya sudah mawas diri kemudian bisa dijadikan percontohan untuk bermawas diri ya. Cuma dalam pandangan saya, ini merupakan salah satu hal yang perlu disoroti untuk menyambut datangnya Bonus Demografi dalam waktu dekat ini. Dan memang sebenarnya karena menumbuhkan budi pekerti dan kepekaan sosial adalah hal yang baik, ga salah kan kalau kita mulai menumbuhkan ketertarikan untuk “menghidupkan nurani” kita? Hehehe

Nah makanya yang muda-mudi, yang punya adik-kakak, hayu ah kita kembali memupuk kembali budi pekerti serta kepekaan sosial kita. Mungkin kali-kali bisa dicoba melihat dari berbagai sudut pandang. Misal kalau tinggal di kost deh ya, misal, kalau kita keluar masuk kost pagar seringkali ga ditutup lagi, coba terka kira-kira apa yang bakal dipikir sama tetangga. Atau kalau kita meminjam barang, kemudian setelah selesai memakai bukannya dikembalikan malah menunggu yang punya minta barangnya lagi. Coba kali-kali bayangin jadi orang lain juga. Yang mengasuh anak-anak juga mungkin bisa dipertimbangkan lagi untuk menanamkan kesadaran sosial dan budi pekerti kepada anak-anak supaya ketika mereka tumbuh nanti mereka bisa menjadi pribadi-pribadi yang mawas diri.

Wallahu a’lam bisshawab, rahayu.

Salam hangat-

 

“Yesterday I was clever, so I wanted to change the world. Today I am wise, so I am changing myself.” – Maulana Jalaluddin Rumi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s