Retak Hati, Retak Hubungan Kita

Pernah ga punya temen semenjak kecil yang deket banget sampai besar, sekarang jadi diem-dieman gara-gara perbedaan pandangan skema sosial-politik? Kalau inget kenangan-kenangan di masa lalu, rasanya pengen balik gitu ke masa itu, tanpa repot-repot “berperang dingin” cuma gara-gara  perbedaan pandangan skema sosial-politik. Ada yang sependapat?

Dulu yang asyik main bersama, sempet ngambekan, besoknya main lagi happy-happy aja sekarang ada yang aktif menyebarkan isu lah, ada yang ga mau tau begituan lah, dan lain sebagainya.

Sekarang suara-suara monologis (menolak untuk berdialog) yang eksklusifis untuk membenci golongan maupun kelompok tertentu diteriakkan dengan lantang di seantero negeri, mengoyak rajutan indah di masa lalu kita. Pergolakan dunia turut mempengaruhi poros pemikiran tokoh-tokoh di antara kita, bahkan kita pun tak jarang terseret di dalamnya.

Sekarang kita saling menatap tajam karena memandang rendah bahkan tak jarang membenci hanya karena perbedaan pandangan sosial-politik. Masih bisa kah kita menancapkan semboyan bhinneka tunggal ika jika kita menetapkan semua orang harus berpikiran sama dengan kita?

Ayolah, bung. Apa kita tak lelah membiarkan hubungan kita begitu tegang seperti ini? Kemana keramah-tamahan kita, kesantunan kita selaku orang timur? Kita bukan seperti timur-tengah yang bergolak masif. Dengan hati-hatinya berpikir untuk membuat sebuah keputusan, kita bisa melepaskan segala ketegangan ini. Adat dan budaya ketimuran menjunjung tinggi persaudaraan dalam budi pekerti.

Jika ada yang mengatakan lebih baik berbanyak mencari teman mengapa lantas kita begitu ambisius mencari musuh dan menyebar kebencian? Tidakkah kita berpikir ulang bahwa bisa saja ada di antara kita akan mendapat stigma negatif karena apa yang kita ucapkan tanpa pikir panjang. Kita hujat sana-sini, (seolah) menghimbau orang sebanyak-banyaknya hanya untuk seragam dengan pemikiran kita dengan mendiskreditkan, mengucilkan, merendahkan sebagian yang lain yang bisa saja ada di antara kita yang tersakiti di balik omongan kita.

Bukan aku tak peduli dengan kemanusiaan, bung. Terlebih soal tagar SaveAleppo yang justru sudah dibebaskan dari cengkraman teroris impor luar negeri oleh pemimpin mereka. Justru aku tak mau setiap keringat dan detik kita yang tak ternilai harganya itu justru malah menjadi alat untuk mencapai tujuan picik segolongan tertentu. Aku hanya ingin kita memikirkan lagi matang-matang sebelum ikut terjun dalam ganasnya geliat sosial-politik. Masih ingat kita pernah begitu dekat kan? Atau bahkan sekarang saking larutnya bahkan sampai lupa bahwa kita pernah begitu dekat? Apa aku yang begitu rendah selaku objek penyerangan karakter tak lagi teman sehatimu? Apa berteman dengan orang sepertiku membuatmu malu?

Bung, segala pelik urusan hubungan di antara kita belakangan ini membuatku tak kuasa lagi menikmati kopi. Bahkan kafein yang biasanya menenangkanku justru malah membuat kepalaku berdenyut keras. Entahlah, aku bukan Denny Siregar yang bisa selalu akur dengan kopinya. Lebih baik kudekati kembali hitam kopi yang telah lama kutinggalkan. Mungkin sebaiknya kunikmati saja kehadiran “dia yang selalu di sisi namun sekarang menatap dengan benci.”

Serupuutt…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s