Filsafat Keseimbangan: Manusia sebagai Makhluk Sosial-Komplementer

Ada sebuah pemikiran yang menurut penulis menarik untuk dikritisi. Pemikiran ini membangkitkan social class-gap dan kemudian menyerukan untuk menolak menjadi orang-orang kelas bawah. Bahwa, orang-orang kelas bawah hanyalah orang-orang dengan mental rendah.

Sekilas pemikiran ini terlihat baik, terlebih untuk orang yang menganut harga diri harga mati. Namun yang perlu direnungkan, apakah memang benar demikian bahwa orang-orang kelas bawah hanyalah orang-orang dengan mental rendahan? Jika benar demikian, lantas siapakah orang-orang kelas bawah itu? Apa benar demikian?

Pemikiran tersebut adalah bibit arogansi. Disadari atau tidak, pemikiran itu telah mencap sebagian kalangan sosial masyarakat dengan stigma negatif. Dalam hal ini adalah orang-orang kelas bawah, yang menjadi korban pemikiran tersebut. Orang-orang yang terkena stigma negatif tersebut jika meyakini pemikiran yang demikian kemudian akan merasa perlu mengadakan sebuah “revolusi mental”, dia tak mau lagi menjadi orang yang dicap sebagai orang dengan “mental rendahan”. Akibatnya orang itu menghilangkan jati dirinya dan sibuk dalam kebimbangan mencari jati diri yang bukan dirinya, karena “diri”-nya telah ia buang, sesaat setelah ia memantapkan diri untuk melakukan “revolusi mental.”

Jika setiap orang meyakini pemikiran demikian, bahwa “kita tidak boleh menjadi bawahan”, yang akan terjadi adalah chaos. Selain beberapa kalangan yang akan kehilangan jati dirinya seperti yang telah penulis ungkapkan sebelumnya, setiap orang akan saling sikut-menyikut tumbang-menumbangkan karena pemikiran ini  menanamkan ambisi untuk menjadi seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin adalah orang yang menghalalkan segala cara untuk bisa mengalahkan pesaingnya, dengan kata lain secara ambisius, tak perlu diragukan lagi, nafsu lah yang akan mengontrolnya, membuat ia cenderung memperbudak orang-orang yang dibawahinya, yang seharusnya ia ayomi.

Padahal jika kita renungkan kembali, takkan ada pemimpin jika tak ada yang mau untuk dipimpin. Di sini yang perlu dilakukan untuk meluruskan pandangan adalah penggunaan kata “pemimpin” untuk menggantikan kata “atasan”. Tentu bukan hal yang buruk untuk menjadi orang yang dipimpin, karena orang yang dipimpin berjalan bersama dengan pemimpinnya. Namun jika yang digunakan adalah kata “atasan”, yang muncul setelahnya baik suka maupun tidak adalah kata “bawahan”, dan semua orang tak suka menjadi orang yang di bawah. Kata “bawahan” lebih mengarah kepada orang-orang yang tak memiliki kehendak bebas, orang-orang yang diperas dan diperbudak oleh orang yang berkuasa atasnya.

Pada akhirnya yang ingin penulis sampaikan adalah setiap karakter, identitas dan peran manusia bersifat komplementer satu sama lainnya. Jika kita merusak keseimbangan itu, rusak pula keseimangan sosial. Sementara keseimbangan sosial merupakan salah satu kunci krusial untuk terciptanya keteraturan tatanan masyarakat. Jadilah diri sendiri dan kejar apa yang telah menjadi impian kita selama ini.

Wallahu a’lam bisshawab…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s