Perspektif Manusia dan Dualisme Perasaan

Kadang kala kita pernah merasa begitu bahagia di satu waktu dan begitu sedih bahkan terpuruk di waktu yang lain. Rasa bahagia dan rasa sedih, kedua kontras perasaan tersebut yang saya sebut sebagai dualisme perasaan. Yang jadi pembahasan yang cukup menarik untuk saya tulis kali ini, apa yang menyebabkan manusia merasakan kedua corong perasaan tersebut?

Jika kita membicarakan penyebab, kita akan bertemu dengan istilah penyebab internal dan eksternal yakni pengaruh kejiwaan pribadi manusia (dari dalam manusia itu sendiri) serta pengaruh dari luar seperti kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar manusia yang menyebabkan tumbuhnya rasa bahagia atau sedih. Namun sadarkah kita bahwa setiap manusia pada setiap satuan waktu mengelami penyebab kedua corong perasaan tersebut (kebahagiaan dan kesedihan) secara bersamaan -baik itu eksternal maupun internal?

Setelah pengalaman singkat 19 tahun hidup, beberapa perenungan serta beberapa telaah, saya dapati bahwa dalam hidup setiap manusia (bahkan setiap makhluk hidup), kedua perasaan itu selalu berjalan beriringan. Setiap saat, manusia selalu “dilanda secara bersamaan” oleh kedua penyebab tumbuhnya perasaan tersebut. Sebagai contoh, pada suatu hari yang cerah kita dapati sebuah kabar buruk yang sangat tidak mengenakkan hati kita. Hal tersebut tentu membuat kita bersedih, tertekan, dan semacamnya. Namun beberapa saat kemudian ada teman yang datang dan membawakan kabar gembira yang membuat kita begitu bahagia. Pernah mengalami situasi yang demikian? Hati menjadi dilema, apakah harus bahagia atas kabar gembira yang baru datang atau bersedih atas kabar buruk yang telah datang lebih dulu. Ini yang menarik.

Pada kehidupan keseharian, kedua “kabar” tersebut dapat kita jumpai baik dalam bentuk kabar seperti contoh di atas, maupun dalam bentuk penyebab internal dan eksternal seperti yang saya tulis sebelumnya. Dalam suatu waktu mungkin kita pernah merasa begitu bahagia sehingga lupa bahwa pada saat yang bersamaan sebenarnya ada hal-hal yang seharusnya membuat kita bersedih tapi kita tidak menggubrisnya dan begitu pula sebaliknya. Terkadang kita lupa, tapi bahkan terkadang kita tidak menggubrisnya.

Masuk ke pertanyaan selanjutnya, apa yang membuat kita hanya merasakan salah satu corong perasaan tersebut jika sejatinya penyebab kedua kontras perasaaan itu selalu terjadi bersamaan kepada kita? Di sinilah Tuhan memberikan anugerah kepada manusia berupa fokus. Ketika manusia terfokus kepada sesuatu, manusia cenderung tidak mengindahkan di luar objek yang ia perhatikan. Dalam kasus ini, ketika manusia mengingat secara dominan hal yang membuatnya bahagia daripada hal yang membuat ia bersedih, maka ia akan begitu merasa bahagia, juga sebaliknya.

Pada akhirnya, setelah segala penyebab internal dan eksternal yang menyebabkan manusia berbahagia ataupun bersedih, semua kembali kepada perspektif yang bersangkutan. Apa sebab yang ia pandang secara dominan, itulah yang akan menguasai perasaannya secara dominan. Tuhan memberikan karunia kepada manusia sebelum ia lahir, sampai ia kembali bertemu dengan-Nya. Karunia itu tidaklah terputus sedikit pun. Jika kita mengalami rasa sedih, kita bisa meng-counter-nya dengan mengingat-ingat kembali segala kebaikan yang datang di hari itu yang menyebabkan kita begitu bersyukur atas apa yang telah terjadi. Ini dapat membantu kita untuk membalik perasaan. Dalam ilmu psikologi, Law of Attraction menyatakan bahwa apa yang kita terima dari luar sejatinya berasal dari sinyal perasaan kita sendiri juga. Semakin kita menguatkan rasa bahagia pada diri kita, semakin alam mendukung kita untuk berbahagia.

Manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih produktif ketika ia berada dalam kondisi bahagia. Kebahagiaan pun dalam banyak riset jauh lebih memberikan manfaat kepada manusia ketimbang impuls-impuls yang diakibatkan oleh rasa sedih.

Dalam hal ini, Al-Qur’an memberikan petunjuk yang cukup menarik. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat berat.” (QS Ibrahim [14]:7). Di sini Al-Qur’an mengingatkan manusia untuk senantiasa mengingat nikmat yang ia rasakan dan bersyukur atasnya, karena ketika manusia berpaling dari mengingat karunia dan bersyukur atasnya, bahkan alam pun akan mendukungnya untuk terus larut dalam kesedihan dan keterpurukan. Mestakung istilahnya, semesta mendukung apa yang kita ada dalam benak kita.

Jadi setelah dari paparan di atas, akhirnya semua kembali kepada perspektif kita sendiri. Apakah kita memilih untuk bersedih atau berbahagia.

Wallahu a’lam bisshawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s