Manusia sebagai Emanasi Sang Tunggal

Makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (manusia) saling memantulkan satu sama lainnya, membentuk sebuah imaji di dalam penalaran konigtif manusia mengenai wujud Sang Kesempurnaan Mutlak.

Sejatinya, setiap manusia tidak dilahirkan secara inferior-superior. Yang membuat perbedaan itu sebenarnya hanya dikarenakan cara manusia merespon apa-apa yang ia tangkap, sehingga muncullah apa yang kita kenal dengan interself-gap. Setiap manusia diciptakan beragam karakteristik unik tersendiri, yang membuat satu dengan lainnya bersifat komplementer, karena manusia sebagai kodratnya adalah makhluk, tidaklah sempurna. Inilah yang disebut dengan sifat manusia sebagai makhluk sosial.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa Sang Sempurna tidak mencipta manusia dengan kesempurnaan pula apabila dalam sebuah hadits qudsi Ia mengatakan, “Aku mencipta karena Aku rindu untuk dikenali“? Bukankah lebih mudah bagi manusia untuk mengenali sesuatu yang cenderung memiliki kesamaan dengannya, untuk mempermudah manusia mengenali-Nya melalui dirinya sendiri?

Justru karena itu manusia dilahirkan dengan beragam karakteristik unik dengan sifat komplementer satu sama lainnya. Disinilah Al-Qur’an memberi petunjuk “… dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS Al-Hujurat[49]:13). Manusia dapat “melihat” wujud-Nya apabila ia “melihat” dirinya dan juga manusia-manusia lainnya sebagai mikrokosmos beserta seluruh alam di sekitarnya sebagai makrokosmos dan juga Al-Qur’an yang ketiganya tidak lain adalah emanasi dari Sang Wujud yang bersifat transenden sekaligus imanen. Karena hanya manusia lah makhluk yang dapat “melihat” ketiga subject matter tersebut. Itu yang dimaksudkan Al-Qur’an “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin[95]:4). Manusia yang dapat “melihat” itulah yang disebut dengan Insan Kamil.

Semoga kita semua diberikan hidayah dan disampaikan kepada derajat Insan Kamil. Wallahu a’lam.

Referensi:
Bagir, Haidar. 2015. Semesta Cinta: Pengantar kepada Pemikiran ibn Arabi. Jakarta: Mizan Publika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s