Monolog di Depan Cermin

dari atas lemari hitam kost mengambil cermin kecil ku
bercermin, ku tatap wajah lusuh di sana yang terpantul

tahukah kau, bayangan itu lah aku
yang melesu karna ambisi nan berbuah peluh

sampai kapan ku kejar dunia tak tentu
mengapa tak kunjung puas nafsu memburu

tiada lagi cerah ceria dalam cermin
wajah bercahya tiada lagi bersemi

apa yang salah
tidakkah semua kita lakukan segala

dan semua jalan harus bagai rencana
atau memang sudah ada yang mengaturnya

apa semua kita mulai menyaingi
kalam yang termaktub kuasa ilahi

 

(Ilmi, 2016)

Berangkat Ujian

dengan persiapan seadanya
ku langkahkan kakiku menuju ruang kelas

dengan langit yang mendung dan waktu yang mepet
kulewati lalu lalang orang serta berbagai tokokecil

kusapa angin dan dedaunan
serta rintik hujan yang turun perlahan

siapa yang tahu mereka pun tak diam
membalas sapa seraya mendoakan

Refleksi Sepuluh November

“Manusia adalah tempatnya salah dan lupa”

Itu kata-kata yang cukup sering saya dengar bahkan semenjak pertama kali saya duduk di bangku sekolah. Kata-kata itu juga masyhur digunakan sebagai senjata pamungkas, ketika seseorang yang dengan ceroboh berada dalam situasi terpojok karena melakukan kesalahan. Acapkali kita temukan kejanggalan-kejanggalan di sekitar kita, baik yang pengaruhnya signifikan maupun tidak begitu signifikan kepada kita, namun kita memilih untuk diam dan sekadar “menerima keadaan”. Sebagian didasari oleh rasa malas untuk melakukan sesuatu yang dirasa bukan tanggung jawab kita, namun pada tingkatan tertentu kita bahkan memilih untuk “memaklumi” kejanggalan tersebut dengan dalih tidak ada manusia yang sempurna.

Continue reading

Memulai Hari

Aku ingin memulai hari
Dengan penuh kesungguhan hati
Menjalani jalur yang kupilih
Tanpa ada yang dikhianati

Aku memang pembohong
Kemarin melempar omong
Hari ini berpaling sombong
Esok pun bicara kosong

Betapa sulit menjadi manusia
Namun oh, aku ingin berubah
Aku bosan jadi bajingan
Aku ingin hidup dengan kedamaian

Aku ingin membuka lembar hari
Dengan langkah-langkah pasti
Tiada lagi yang tersakiti
Sebab bulat kemantapan hati

 

(Ilmi, 2016)