Wajah Kita

Masehi berputar dua milenia;
tiga setengah abad negeri dijajah,
tujuh puluh tahun bangsa merdeka.

Kitalah putra putri para pebatik,
pewayang, pengukir, penari;
penggubah “jiwa” negeri.

Datuk wariskan segalanya
tuk raih apa yang didamba
setiap pujangga: “Cinta”.

Syair Plato tentang guru tercinta
yang jemput kematian dengan bahagia
pada dialog Repubilk:

Seakan semua berlupa pada “diri”,
masyuk dengan bayang pada
dinding gua. Padahal dunia penuh cahya

dan warna jika hendak berputar,
dan ke sekeliling pandangan diedarkan.
Itulah sebuah syair cinta,

yang ungkapkan; wajah kita
Warisan datuk: budaya; dikesampingkan
demi kerakusan dunia,

yang merasuk dan jadi ambisi egois.
Ini lah wajah kita:
budaya telah dilupa.

Padahal di sanalah kebijaksanaan
terletak, kunci setiap permasalahan
tergeletak. Namun kita acuh

Padahal pebatik telah ajarkan
agar dari segala mengambil hikmah,
tuk mengerti budi dan bijaksana.

Padahal pewayang telah ajarkan
agar sejarah tidak dilupakan,
tuk hindari alfa dan kesalahan.

Padahal pengukir telah ajarkan
agar teguh dipertahankan,
tuk gapai asa dan nawacita.

Padahal penari telah ajarkan
agar hidupkan kepekaan sosial,
tuk ciptakan sejahtera masyarakat.

Jika Bung Wiji katakan kita
adalah bunga, tuk tumbangkan tirani,
ketahuilah: tirani, ada pada diri.

*) Tulisan terpilih sebagai 25 terbaik lomba menulis puisi Festival Sastra Bulan Bahasa Universitas Brawijaya 2016 yang diterbitkan dalam buku Nyanyian Metanoia
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s